ARUK, SI MANUSIA ALTERNATIF

Sejarah Penciptaan “Aruk Gugat”

Lakon “Aruk Gugat” adalah sebuah eksperimen panjang yang telah dimulai Teater Satu Lampung sejak tahun 1998. Bermula dari sebuah diskusi yang menggagas tentang hubungan teater (pertunjukan) dengan penonton. Lalu berkembanglah pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: Mungkinkah membuat sebuah karya pertunjukan yang bisa diterima dan dinikmati oleh semua lapisan dan kelas sosial masyarakat? Apakah mungkin dicapai suatu bentuk artistik dan estetik pertunjukan yang bisa diterima dan dimengerti secara umum? Apakah esensi dari sifat-sifat universalitas di dalam karya seni (pertunjukan) itu? Mungkinkah membuat sebuah pertunjukan yang tidak terlalu sukar dilakukan namun memiliki kualitas artistik dan estetik yang bisa diterima dan dinikmati oleh semua penonton?

Dari studi itu, diperoleh data bahwa sebuah repertoar kecil Teater Satu yang bertajuk “Warahan Aruk Gugat” yang pernah dimainkan pada tahun 1996, adalah salah satu pertunjukan yang paling mungkin bisa meladeni—bukan menjawab—pertanyaan-pertanyaan di atas.

Penciptaan repertoar “Warahan Aruk Gugat” ini bersumber dari sastra lisan Lampung yang disebut “Warahan”, yakni salah satu bentuk sastra tutur yang berfungsi sama seperti dongeng. Warahan inilah yang oleh sebagian besar pelaku seni dan peneliti di Lampung disebut sebagai bentuk teater rakyat Lampung. Namun, di dalamnya belum ada kelengkapan unsur-unsur pertunjukan seperti halnya yang terdapat di dalam Ludruk, Ketoprak, Longser, dan lain-lain. Warahan masih terbatas pada seorang pencerita dan cerita yang disampaikan yang biasanya berisi nasihat, sindiran, pesan. Dalam menyampaikan ceritanya, Pewarah atau Pencerita menembangkan seluruh cerita dengan iringan musik gambus. Seorang Pewarah biasanya mampu menghafal 20 sampai 100 bait cerita.

Dari sumber-sumber penciptaan seperti itulah, “Warahan Aruk Gugat” dikembangkan bukan diposisikan dalam bentuknya sebagai dongeng melainkan kemungkinan-kemungkinannya dikembangkan sebagai pertunjukan yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Dalam proses eksplorasi oleh Tim Artistik Teater Satu, bentuk Warahan ini dipertemukan dengan bentuk-bentuk pertunjukan teater modern yang telah berkembang dan dikenal oleh Teater Satu sebelumnya. Maka, dilakukanlah upaya-upaya identifikasi peran/tokoh, karakterisasi, artistik, aktualitas cerita, untuk memperkaya bentuk pertunjukan Warahan yang telah pernah ada sebelumnya.

Hingga saat ini, setelah lebih dari 15 tahun Teater Satu berupaya terus menerus memeriksa dan mengembangkan bentuk pertunjukan Warahan, telah dilakukan lebih dari 70 kali pertunjukan dengan cerita dan bentuk pertunjukan yang berbeda-beda. Namun, sampai saat ini, unsur-unsur artistik pertunjukan yang tetap dipertahankan adalah; kesederhanaan bentuk, plot, dan karakterisasi tokoh utama yakni Aruk, yang tetap setia pada ekspresinya sebgai “SANDIWARA KAMPUNG”.

Kami menamakannya Sandiwara Kampung karena repertoar “Warahan Aruk Gugat” memang diniatkan menjadi pertunjukan yang bisa meladeni segala bentuk ruang dan bisa dimainkan di mana saja dan kapan saja; khususnya di Indonesia. Di mana hal-hal yang naif, kampungan, dan segala kategori yang selama ini dianggap sebagai “sisi gelap” dalam perkembangan “ke-ber-adaban” masyarakat justru dihidangkan. Samasekali bukan untuk meraih semacam simpati atau pemakluman, melainkan untuk diperiksa kembali.  Aruk Gugat adalah upaya Teater Satu untuk memeriksa kembali “ke-kampungan”, yang ada dalam lingkungan sosial, sistem politik, budaya, dan terutama dalam diri kami sendiri, sambil terus mengupayakannya menjadi pertunjukan yang bila mungkin bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat dengan berbagai latar belakang budaya.

Aruk dan Socrates di depan Toko Kelontong

Untuk kali kesekian pertunjukan Aruk Gugat (Kini “The Aruk”) telah berhasil selama satu setengah jam membuat keram perut penonton yang terus menerus tertawa.Bahkan,meskipun pertunjukan telah usai, para penonton enggan beranjak dari tempat duduknya, mereka seperti belum siap pentas berakhir.

Aruk Gugat yang kini memiliki nama baru “Te Aruk” adalah drama dengan banyak episode. Mengawali tahun 2020 ini, The Aruk memanggungkan episode “Kebelet Ngetop” di Studio Kecil Teater Satu pada Kamis, 5 Maret, lalu. Dengan segala kejenakaan dan kekocakkannya, The Aruk menjadi semacam kanal pelepasan kepenatan dan rutinitas bagi penonton. Seluruh Audiens seperti menemukan kembali sifat mereka sebagai Homo Ridens (Mahluk yang bisa tertawa). Aruk menjungkirbalikkan dunia dengan logikanya yang lugu dan pandir. Ia menabrak tertib berpikir ala orang “normal”. Ia, dengan ringan, melakoni hidupnya yang “centang-prenang” itu, mengomentari sesuatu, berlagak seperti filsuf, tokoh masyarakat, seniman, dengan sikap dan perspektif yang ganjil.

Saya membayangkan apakah bisa, sosok Aruk–yang diperankan dengan alamiah oleh Jayen–itu, hidup di zaman yang memuliakan uang (materi)  ini? Seluruh konflik yang dialaminya dalam drama itu bersumber dari ketidakmampuannya memenuhi tuntutan kebutuhan materil. Di tengah segala keterbatasan dan desakan perekonomian dalam keluarga, Aruk malah terobsesi dengan soal-soal yang tak bakal bisa dia bereskan dengan kemampuannya yang tak memadai dan cara berfikirnya yang “aneh”. Saat menjadi Pamong Desa Ia terobsesi melacak  jejak pelayaran Firaun di Sumatera dan  terobsesi mengembalikan kelestarian habitat laut.  Akhirnya Ia memutuskan untuk alih profesi menjadi nelayan agar bisa lebih fokus mengawasi pencemaran laut. Namun bukannya menemukan solusi, Ia malah mengalami kesialan demi kesialan–sebagaimana biasanya. Setelah pensiun dari Nelayan, Aruk memutuskan menjadi pemandu bakat dengan mendirikan sebuah PH (Production Hause) dan merekrut hampir semua generasi muda yang ada di kampung itu. Pekerjaan yang semula dimaksudkannya untuk meraih keuntungan secara ekonomi sebagaimana keinginan Betik, Isterinya, ternyata hanya mengikuti obsesi barunya: menjadi seniman film. Aruk memang tokoh yang oleh Ayahnya, Rustam Abdul Ghani, dipersiapkan mampu menjalani profesi apa saja dan terampil di segala bidang. Itulah mengapa Rustam telah mendidik Aruk sejak usia kanak-kanak dengan berbagai disiplin ilmu, bahkan ilmu yang belum patut diajarkan sudah diberikan: filsafat, logika,             

Politik, dll. Walhasil, Aruk yang amat lugu itu menjadi sosok yang memiiliki cara berpikir sangat ganjil.

Dalam pengantarnya, pengarang lakon  Iswadi Pratama, menggambarkan Si Aruk adalah laki laki berwajah bloon, namun tulus. Seorang Majenun yang menertawai dunia yang menertawainya. Dunia yang menampik seorang yang tak mau “menghitung” jasa. Seorang yang hanya ingin hadir dengan polos, sepenuhnya, dan tak menyimpan prasangka. Aruk sering hadir dengan nalar yang sering tak di tempat yang benar. Nalar yang juga akhirnya membuatnya tak pernah dimengerti dan diterima dengan wajar. Menurut Iswadi Pratama Aruk adalah sebuah kisah yang akan selalu menjadi  bacaan yang  tak lebih dari kelakar.

Saya bersepakat.  Aruk adalah Anti Thesis dari kondisi saat ini. Kondisi masyarakat sekarang ini, seperti orang yang sedang menaiki bus besar dan bagus, fasilitasnya lengkap, berjalan dengan lancar dan enak. Para penumpang merasa puas tetapi tidak tahu tujuan bus itu. Bus berjalan sesuai mekanisme gerak motor untuk terus maju, padahal bus tersebut menuju jurang kebinasaan. Dengan nalarnya yang benar Aruk tak ingin katut mengikuti arus zaman tersebut, dia memilih jalan lain yang dianggap keliru dan bodoh oleh orang kebanyakan. Patut kita pertanyakan sebenaranya siapa yang tolol, kita atau Aruk?. Dan Aruk mentertawakan, tapi menurutku lebih tepatnya Aruk mengejek orang-orang yang mengangap dirinya bloon. Aruk adalah sosok yang berani dan tidak malu untuk melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan “kebenaran umum” di tengah masyarakat. Aruk adalah sosok yang mandiri, mandiri menentukan hidupnya, mandiri untuk bertindak dan mandiri untuk berbicara. Aruk adalah sosok yang bebas.  Aruk melihat kondisi saat ini seperti Socrates yang berdiri menatap sebuah toko kelontong  yang menjual berbagai macam barang, lalu ia berkata: “Betapa banyak barang yang tidak kuperlukan!”. Aruk melihat dunia terlalu dipenuhi dengan segala sesuatu yang tak bermanfaat dan tak bermakna.

Sepanjang pertunjukan, lakon Aruk seperti tak memiliki struktur yang jelas, penuh dengan pelanturan. Namun justru pelanturan-pelanturan itu sengaja diciptakan untuk membentuk alur dan struktur pertunjukan. Mari kita lihat beberpa contoh kelihayan sang peramu lakon Aruk mempermainkan logika-logika  menjadi humor yang cerdas dan penuh sindiran tanpa harus memasukan unsur-unsur pornografi, kekerasan, vandalisme, tragedi, sarkasme juga berbagai hinaan terhadap golongan tertentu.

Permainan dan penjungkirbalikkan Logika itu bisa kita lihat dalamm seluruh Babak Pertunjukan:

Bababk I : Saat Aruk Masih Kanak-Kanak

Pertama, tentang ikan buta : Suatu pagi, Aruk diperintahkan oleh emak untuk mengambil bubu di sungai. Setelah dari sungai Aruk kembali ke rumah dan mengabarkan pada emak, bahwa bubunya berhasil menjerat banyak ikan dengan ukuran besar. Emak senang bukan kepalang, diperiksanya bubu yang ada di tangan Aruk tapi apa kenyatannya, bubunya kosong. Emak makin penasaraan dan menanyakan keberadaan ikan-ikan tersebut, dengan polos Aruk menjawab sudah di lepas lagi ke sungai. Geram menahan emosi, emak menanyakan kenapa Aruk melepas lagi ikan-ikan itu ke sungai. Dengan lugu Aruk menjawab : “Ikan-ikannya buta semua, mak”. Meledaklah amarah emak : “Ya walaupun buta, kan masih bisa di makan”. Tak ingin disudutkan,  Aruk menimpali : “Ya tapi buta mak”. Melalui sosok Aruk, pencipta lakon ini mengkritik masyrakat moderen sebagai orang yang rakus (mahluk konsumtif) yang siap melahap apapun dan tak memperdulikan lagi hati nurani.

Kedua, tentang kegagalan komunikasi. Pada pagi yang lain emak kembali menyuruh Aruk untuk memasang bubu di sungai : “Kamu denger ya apapun yang masuk kedalam bubu ini bawa pulang, jangan kamu buang. Kecuali setan, Ta’un, duguk baru boleh kamu buang”. Emak berkata pada Aruk. Lalu Aruk berangkat memasang bubunya di sungai, tak lama Aruk kembali pulang membawa bungkusan besar. Emak menanyakan kepada Aruk apa isi bungkusan tersebut, Aruk menjawab hasil tangkapan bubu. Setelah bungkusan besar itu di periksa oleh emak, ternyata bungkusan itu berisi berbagai macam sampah. Emak marah bukan kepalang dan dengan santai Aruk hanya menjawab ; “Kan kata Emak, apapun yang masuk kedalam bubu itu bawa pulang, kecuali setan, Ta’un, duguk baru boleh di buang”. Bisa kita lihat bagaimana Aruk  menyindir kesenjangan pemahaman antar penyampai pesan dan penerima pesan yang menjadi sumber kegagalan komunikasi yang terjadi pada masyarakat saat ini. Bahkan kesenjangan pengetahuan dan pemahaman ini sering dimanfaatkan oleh elit-elit tertentu untuk menciptakan post truth (kebohongan).

BABAK II: Saat Aruk Dewasa dan Menjadi Pamong Desa

Masayarakat yang malas berfikir dan lebih mementingkan usus besar : Setelah dewasa Aruk terpilih menjadi Pamong untuk memimpin masyarakat desanya, setiap ada kesempatan Aruk selalu mengajak warganya untuk rapat mendiskusikan ikhwal mengenai kampung mereka. Aruk mencoba segala cara supaya masyarakat di kampungnya mau berfikir. ketika sungai dan sumber air bersih di kampung mereka tercemar oleh limbah yang sengaja di buang ke kampung mereka. Aruk segera mengumpulkan warganya di balai desa untuk menemukan solusi pencemaran lingkungan. Tapi naas, Bersama dengan itu Koh Beng yang memiliki modal besar membuka pabrik pakan kucing impor, sebagian besar warga memilih untuk menghadiri acara pembukan pabrik tersebut dengan harapan mereka bisa diterima bekerja di pabrik tersebut. Warga kampung bukan malah memikirkan bersama-sama mencari solusi untuk menangani masalah pencemaran lingkungan yang terjadi, mereka malah mencari sandaran ekonomi baru yang mungkin akan menyelamatkan hidup mereka.

BABAK III: Saat Aruk Menjadi Nelayan

Gurita kapitalis : Setelah gagal menjadi pamong desa, tapi lebih tepatnya menggagalkan dirinya sendiri menjadi pamong desa. Aruk memilih profesi menjadi nelayan, sekian lama menjalani profesi sebagai nelayan hasil tangkapan tak kunjung banyak. Setiap kali pulang dari melaut Aruk hanya membawa rumput laut dan setiap seminggu sekali dia selalu terkena bom ikan. Pada akhirnya Aruk kembali lagi menggagalkan dirinya menjadi nelayan, karena laut sudah dikuasai para pemilik modal, pantai-pantai dan pulau-pulau  sudah dimiliki para pemilik modal. Bahkan para pemilik modal akan melakukan proyek reklamasi yang mengancam kehidupan nelayan yang jumlahnya sangat banyak. Proyek reklamasi juga mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir yang menjadi rumah bagi aneka ragam hayati laut. Pemilik modal seperti gurita yang memiliki banyak tentakel mencengram apapun, bahkan di laut yang begitu luas dan memilik sumber daya alam yang tak terbatas, Aruk tak diizinkan untuk sekadar mengambil ikan kecil.

BABAK IV: Saat Aruk Menjadi Sutradara

Masyarakat yang kehilangan pusat nilai : setelah mengagalkan kembali dirinya menjadi nelayan, Aruk menemukan profesi yang tepat untuk dirinya, yaitu konsultan untuk orang-orang yang ingin cepat ngetop. Ternyata di luar dugaan peminatnya banyak sekali, banyak sekali orang yang ingin cepat terkenal. Pada bagian ini Aruk mulai menunjukan siapa dirinya, seorang majenun yang meledek realita. Pada bagian-bagian sebelumnya kita melihat Aruk seperti orang bloon yang terjebak pada ruang waktu yang salah, tapi bukan Aruk yang salah melainkan ruang dan waktu itu lah yang tak lagi memadai untuk si Aruk. Pada bagian ini Aruk mengajarkan The Stupid Acting Method kepada para peserta kursus yang ingin cepat ngetop. Inti dari  The Stupid Acting Method kalau ingin cepat terkenal harus tolol karena tolol itu tak ada batasnya. Ingin jadi bintang film atau sinetron tak boleh pintar, tak boleh memiliki kemampuan akting yang benar, yang penting memiliki paras rupawan walaupun tolol akan cepat terkenal. Ingin jadi Vloger tak boleh pintar, kontent-kontennya harus yang bloon-bloon di jamin subscriber akan meningkat pesat, jadi pejabat publik tak perlu pintar, kalau kamu pintar pasti akan angkat tangan untuk menjadi pejabat publik, karena banyak sekali masalah-masalah yang harus di selesaikan. Pada bagian ini Aruk menyerang habis-habisan bangsa ini yang mengalami ekstase komunikasi, mengkritik habis-habisan budaya pencitraan yang sudah menjangkiti semua lapisan masyarakat yang semakin menjauhkan dari pusat nilai, mengejek para manusia pengkonsumsi simbol. Seperti kata Aruk : “Tak perlu menjadi alim yang penting terlihat alim, tak perlu menjadi bijak yang penting terlihat bijak, tak perlu menjadi perduli yang penting terlihat perduli, tak perlu menjadi pintar yang penting terlihat pintar, ingat ini kalian harus menjauhi gravitasi supaya bisa bebas”

Aruk hanya mengajak kita untuk kembali hidup yang alamiah sesuai dengan fungsi sebagai manusia. ternyata peradaban saat ini menjauhkan manusia dari hal-hal alami. Kebudayan yang di hasilkan manusia saat ini tidak lagi menjadi alamiah dan jatuh pada sikap mencari enaknya sendiri, peradaban sekarang ini membuat yang sederhana menjadi rumit. 

Tentang Black Comedy dan Manusia Alternatif

Goenawan Mohamad pernah melabeli pertunjukan Aruk, ketika di pentaskan di Teater Salihara, Jakarta. Pada Medio 2010 sebagai pertunjukan Black Comedy. Tapi saya sedikit tidak bersepakat.  Black Comedy diciptakan oleh teoritikus surealis André Breton pada tahun 1935 untuk menunjuk sebuah subgenre dari komedi dan satir di mana tawa muncul dari sinisme dan skeptisisme, humornya juga sering mengandalkan topik seperti kematian. Breton menciptakan istilah untuk bukunya Anthology Black Humor (Anthologie de l’humor noir), di mana ia mengkreditkan Jonathan Swift sebagai pencetus humor hitam dan gallows humor termasuk kutipan dari 45 penulis lain. Breton menggangap Swift sebagai pencetus humor hitam dan gallows humor, terutama dalam potongan buku Directions to Servants (1731), A Modest Proposal (1729), A Meditation Upon a Broom-Stick (1710). Istilah komedi hitam kemudian sering dikaitkan dengan Breton.

Dark humor(Black comedy) adalah lelucon atau guyonan yang sengaja dibuat oleh seseorang dari sesuatu yang awalnya mengandung konten negatif dan berbagai unsur 18++, seperti pornografi, kekerasan, vandalisme, tragedi, sarkasme juga berbagai hinaan terhadap golongan tertentu. mengandung makna mengerikan dan kejam dibalik leluconya. Dark humor memang adalah humor yang paling sering mengundang banyak kontroversi.

Sementara komedi lakon Aruk jauh dari unsur-unsur Black Comedy di atas, Lakon Aruk hanya ingin mengajak para penikmatnya untuk mudik ke kampung halaman, yang sudah lama di tinggalkan, untuk kembali memeriksa nila-nila apa yang sudah di buang  yang di anggap sudah tak berguna lagi. Lakon Aruk hanya mengajak para penikmatnya untuk berani meledek diri sendiri, untuk berani menjadi cukup sebagai manusia, untuk menjadi manusia seutuhnya. Lakon Aruk hanya mengajak kita untuk mentertawakan  apa yang disebut oleh Marxhokheimmer, Salah Satu Punggawa Mahzab Frankfrut: “segala upaya manusia modern untuk menjadi rasional malah membuatnya menjadi irasional. Untuk itu saya dengan penuh percaya diri melabeli pertunjukan ini sebagai “White Comedy”, tertawa yang membikin kita abadi dan tak berlebihan bila saya menyandingkan sosok Aruk dengan Diogenes dan Nasruddin Hoja, sebagai  manusia-manusia alternatif. 

Oleh: Deri Efwanto

Leave a Reply