KURSI-KURSI (THE CHAIRS)

Kursi – Kursi“ karya Eugene Ionesco, adaptasi dan sutradara Iswadi Pratama. Sebuah lakon  yang  bercerita  tentang pencarian  identitas   sebuah masyarakat urban. Pertunjukan ini dikemas dalam bentuk kontemporer; lebih banyak menggunakan  bentuk  gerak  tari,  bela-diri,  nyanyian,  musik,  dan  imej-imej  visual. Yang  menarik,  ia  akan  dikembangkan  dengan  memadukan unsur-unsur  budaya yang ada di Indonesia, negara-negara   Asia, serta Eropa, baik yang bersifat tradisional maupun budaya urban. Karena bersifat visual, maka pertunjukan ini bisa dinikmati oleh penonton dari bangsa manapun. Cerita akan disampaikan dalam bentuk-bentuk ekspresi gerak dan imej-imej video.     

Carel dan Semiramis adalah sepasang suami isteri yang telah berusia lebih dari 80 tahun.  Mereka  hidup  terpencil  di  sebuah  rumah  yang  berada  di  bukit  karang  di kelilingi lautan. Kesepian dan bosan, membuat mereka mengenang banyak hal. Baik yang   pernah   terjadi   atau   yang   mereka   bayangkan   pernah   terjadi   dalam hidup.mereka.  Mereka juga  membayangkan bahwa  akan  ada  banyak  tamu  yang datang berkunjung untuk.mendengar pesan penting yang akan disampaikan Juru Kisah, yakni seorang yang disewa Carel untuk menyampaikan prsan itu. Sebab Carel sendiri tak mampu berbicara dengan baik–meskipun ia dulunya seorang ilmuwan dan intelektual. Tamu memang tak pernah hadir, Carel dan Semiramis tak mampu bertahan   melawan   bosan.   Mereka   memutuskan   mengakhiri.hidup.   bertepatan dengan itu Juru Kisah datang. Tapi ternyata ia hanya seorang Tuli dan bisu.

Pertunjukan “Kursi-Kursi“ sudah dipentaskan di beberapa kota dan festival diantaranya  Young  Directors  Festival  SCOT  2016  di  Toyama,  Jepang,  lalu  di Festival Oktober 2017 Dewan Kesenian Lampung dan ISBI Bandung 2017. Lalu pada tahun 2019 pertunjukan “Kursi-Kursi” menjadi pertunjukan pembuka pada Festival Teater Jakarta di Teater Jakarta Taman Ismail Marzoeki.

                                 

Foto oleh: Bustanil Arifin

Leave a Reply