Lonceng Absurditas dalam Empat Fragmen “Kursi-Kursi” Teater Satu Lampung.

Portal Teater – Membuka tirai Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019, Teater Satu Lampung dengan apik mementaskan naskah “Kursi-Kursi” karya Eugene Ionesco di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (12/11) malam.

Kedelapan aktor: Imas Sobariah, Ahmad Jusmar, Budi Laksana, Laras Utami, Vita Oktaviana, Baysa Deni, Desi Susanti, Gandi Maulana, dan Sugianto, tidak hanya tampil memukau, tapi terlebih mampu memperistiwakan fase-fase kenangan Carel dan Semiramis yang tampak absurd dengan baik.

Empat fragmen itu merupakan empat fase kenangan Carel dan Semiramis yang ditawarkan sutradara Iswadi Pratama. Tiap fragmen terjalin tanpa akhir, karena yang terakhir dalam fragmen pertama selalu menjadi permulaan pada fragmen kedua.

Begitu seterusnya. Hingga fragmen terakhir, kembali lagi ke fragmen pertama.

Seperti tak ada kosakata akhir, tubuh pertunjukan seolah dimainkan dalam sebuah lingkaran waktu dan makna.

Sirkulasi waktu tiap fragmen memang dengan cerdas diterapkan Iswadi dalam pentas ini. Menjadikan bagian yang satu terlebur ke dalam bagian yang lain. Ini menggambarkan keutuhan memori manusia yang tidak terpecah-pecah.

Selaku sutradara Teater Satu Lampung, Iswadi memang telah mengadaptasi naskah ini ke dalam konteks yang lebih dekat dengan penonton kekinian agar tidak terlihat abstrak dan berdinding.

Telah banyak pula karya Ionesco yang diadaptasi Iswadi Pratama, termasuk sebelumnya “Jalan Yang Tak Ditempuh” (Agustus 2019).

Dalam karya-karya itu Iswadi selalu menghadirkan ketegangan-ketegangan waktu ke dalam tubuh pertunjukan. Dan para aktornya dengan cukup baik memerankannya.

Struktur artisitik dalam pentas ini dibuat dengan cukup sederhana, dengan hanya satu pintu, satu jendela, meja tamu, dan kursi-kursi lain yang berjejer di samping kiri panggung, berada di belakang jendela yang menghadap ke laut.

Carel, yang kini telah berusia 80 tahun (sebenarnya bukan hanya usia biologis tapi lebih sebagai usia kebosanan), terpekur dan meronta-ronta di tubuh jendela yang menghadap ke laut itu.

Sementara istrinya, Semiramis, berteriak-teriak dari dalam ruang tamu agar Carel menghentikan aksinya untuk bunuh diri dengan terjun ke laut. Carel akhirnya menurutinya.

Keduanya hidup di sebuah rumah di bukit yang dikelilingi lautan. Di hari-hari uzurnya itu, Carel memilih mengamati lautan di depannya, sembari mengenang kejayaan dan segala sesuatu yang pernah dilaluinya di masa lalu.

Melalui longokan kepalanya di jendela itu, Carel ingin melihat betapa luasnya dunia, seluas lautan. Ia ingin menangkap horizon makna di ujung tak berbatas. Namun, seperti gelombang lautan, hidup Carel tak seindah yang dibayangkannya.

Ada banyak hal yang telah dilakukannya sebagai perwira militer sekaligus ilmuwan. Begitu pula, ada banyak hal yang berada di kepalanya untuk dijadikan di masa depannya, termasuk memiliki anak-anak yang baik dan sukses. Lanjutkan membaca……

Leave a Reply